Tutorial Memanah

Memanah olahraga tradisional yang akan terus ada hingga akhir zaman.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Panahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Panahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 25, 2016

Teknik Thumbdraw di Zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam



Di timur tengah, teknik thumbdraw sudah digunakan semenjak setidaknya tahun 1000/2000 sebelum masehi oleh kebudayaan2 spt mesir kuno, babylonia, assyiria... dan sebelum bangkitnya Islam, orang2 Parthia dan orang2 Sasaniyah yang berkuasa di Persia sudah menggunakan teknik ini

Orang mesir kuno tahun 1000-2000 an sebelum masehi

mesir kuno

babylonia

Raja Shapur II dari Persia menggunakan teknik thumbdraw 24


Orang Assyiria 1000 sebelum masehi


Secara umum... teknik thumbdraw pernah ditemukan di hampir semua budaya Asia/Timur... alasannya krn budaya timur adalah pengguna kuda yg intensif

Hampir semua peradaban timur ada teknik thumbdrawnya

Mungkin thumbdraw bukan hanya Rasulullah saja, kalo liat penggunaannya yg lbh lama lagi... mungkin Nabi Ibrahim (lahir di babylon), Nabi Ismail, Nabi Yusuf (jadi pejabat mesir), Nabi Musa (besar di kalangan istana Mesir), dll juga thumbdraw an

Tadi sudah dijelaskan ttg kondisi sejarah budaya wilayah timur tengah. Dan asia umumnya terkait penggunaan teknik thumbdraw. Bahwa teknik thumbdraw sudah ada setidaknya semenjak 2000 SM dan luasan wilayah penggunaannya dari timur dekat ke timur jauh.\

alias hampir seluruh asia.

Utamanya horsebow dan thumbdraw digunakan oleh budaya tinggi di perkotaan...

Walopun di kebudayaaan rendah dan pedalaman seperti penduduk hutan, gurun, lembah2 terpencil dll masih menggunakan busur longbow yg simpel dari satu batang kayu.

Lalu bagaiman dgn jazirah Arab? Banyak bukti2 ilmiah hasil penelitian para ulama, ahli sejarah, jaman dulu dan modern yg mengarah pada penggunaan horsebow dan thumbdraw secara intensif

Hijaz tempat lahir dan hidupnya Rasulullah dan para sahabat, yg terletak di sana Mekah dan Madinah adalah wilayah jalur perdagangan internasional semenjak zaman jahiliyah hinggga zaman Rasulullah dan setelahnya setelahnya


Hijaz, terutama Mekah dilalui jalur perdagangan dari Yaman ke Syam, Irak, dll dan sebaliknya, India ke Syam dan Mesir, Persia.

Karena kondisi ini, penduduk hijaz tentunya melek dgn kebudayaan2, produk, kebiasaan sekitar... termasuk busur dan teknik memanah, krn ini merupakan kebutuhan saat itu.

Rasulullah sendiri pernah safar ke Syam dan tempat2 lain.

Artinya penduduk kota2 besar di Hijaz bukan termasuk suku2 pedalaman, seperti suku2 Arab Badui yg tinggal nomaden di gurun2.

Utk busur horsebow sendiri, bukti sejarah di Ed Dur utara Jazirah Arab ditemukan artefak pelapis siyah busur horsebow yg terbuat dari tulang.

Ini hasil penelitian sejarawan dari Belgia di Ed Dur Jazirah Arab

Setidaknya ini berasal dari tahun 100 sebelum masehi. Disebutkan bahwa busur horsebow digunakan ekslusif oleh para bangsawan dan org2 perkotaan di jazirah Arab.

Bukti lain terdapat di kitab Al Furusiyah Ibnul Qoyyim. Bahwa disebutkan Rasulullah menggunakan busur saat perang uhud hingga siyahnya patah.


Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa busur Rasulullah yg bernama Al Katum adalah jenis horsebow. Yg digunakan di perang Uhud hingga siyah nya patah. Teks asli bahasa Arab jelas2 menuliskan kalimat "Siyataha" (dilingkari merah).

Dan kita ketahui bahwa hanya horsebow yg punya siyah...
Selain itu, busur yg terafiliasi dgn sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash masih tersimpan di suatu museum di madinah.

Busur ini sesuai dgn deskripsi jenis Busur Arab Al Wasithiyah berdasarkan ciri2nya di kitab2 panahan Islam.

Ini bukti2 yg ada ttg penggunaan busur horsebow di era Rasulullah dan para sahabat.

Tentang penggunaan teknik apa, memang betul belum ada keterangan di level hadits ttg hal ini...

Mungkin ada tp belum tergali oleh ahli hadits krn teknik memanah adalah bagian muamalah dan budaya yg kalaupun ada di hadits sifatnya sbg informasi2 tambahan dalam matn hadits.

Namun kalau dari sudut pandang busur horsebow yg digunakan saat itu, dan kebiasaan2 memanah dgn busur horsebow di kalangan budaya2 timur tengah... kemungkinan teknik thumbdraw jg digunakan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Dalam Kitab Telhis i Resail ur Rumat, kitab panahan utsmani terakhir, disebutkan bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahuanh membuatkan 2 thumbring untuk kedua putranya Al Hasan dan Al Husein.

Dari tanduk kambing

Walopun tdk disebut tekniknya, tetapi dgn dibuatkannya thumbring maka dapat disimpulkan teknik thimbdraw yg digunakan oleh para sahabat Nabi ini.

Maka kesimpulannya:


  1. Penduduk hijaz, mekah, madinah, bukan penduduk pedalaman yg terbelakang
  2. Penduduk hijaz bagian dari kebudayaan tinggi yg secara aktif berinteraksi dgn budaya2 tinggi di sekitarnya
  3. Di zaman Rasulullah, jazirah di kelilingi oleh 2 kekaisaran besar, yaitu Byzantine dan Persia yg keduanya pengguna thumbdraw secara intensif...
  4. Busur horsebow digunakan oleh penduduk2 kota terutama bangsawan Arab semenjak 100 tahun sebelum masehi
  5. Dari bukti2 sejarah yg ada besar kemungkinan teknik thumbdraw digunakan di hejaz utk menggunakan busur horsebow.
  6. Ada beberapa alasan knapa "belum" ada keterangan teknik memanah dlm hadits:
    A. Ahli hadits modern kurang memahami dunia panahan Islam
    B. Ahli hadits hanya fokus pada hal2 yg bersifat dalil2 keagamaan
    C. Mungkin ada di Arab sana, namun setelah ditranslasi ke bahasa Indonesia terjemahannya tdk disebutkan krn kurangnya pemahaman ttg panahan
    D. Memang benar gak ada keterangan krn bukan terkait ibadah dan akidah (walopun Imam Bukhari sbg ahlinya hadits juga memanah dgn teknik thumbdraw)
Namun sy berkeyakinan krn sudah ada bukti penggunaan busur horsebow di hejaz, dan ada bukti penggunaan teknik thumbdraw sbg teknik utama kebudayaan2 timur tengah... maka para personil2 peradaban Islam (Rasulullah dan para sahabat) semenjak awal sudah paham dan ada yg menggunakan teknik thumbdraw.

Seperti halnya ketika di puncak Gunung Jaya Wijaya ditemukan bola sepak... maka yakin bahwa bola itu disepak pake kaki, bukan pake tangan.

Disampaikan pada kuliah WA tanggal 25/08/2016.
Ketua KPBI (Komunitas Pemanah Berkuda Indonesia)

Kamis, Agustus 11, 2016

Tahukah Kamu... Ternyata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Juga Menjadi Supporter Olahraga!

Bersama Coach Akmal Dahlah dari Malaysia

Gaung olimpiade Rio 2016 telah menggema, bahkan yang menggembirakan adalah salah satu anak bangsa Riau Ega menjadi pemenang dalam salah satu cabang panahan. Alhamdulillah.. semoga Allah merahmati para penggiat panahan di Indonesia.

Tapi.. jauh sebelum olimpiade modern dihelat di Yunani, ternyata kaum muslimin di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengadakan perlombaan, diantaranya adalah lomba memanah.

Mari kita cermati bersama:

Dari Salamah bin Akwa’ bahwa Nabi shallallahualihi wasallam melewati orang-orang dari Aslam yang sedang berlomba memanah, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah wahai keturunan Isma’il, karena bapak kalian adalah pemanah! Saya bersama Bani Fulan.” Lalu satu dari pihak (yang berlomba) menahan panahnya, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Kenapa kalian tidak melepaskan anak panah kalian?” Mereka menjawab, “Bagaimana kami akan memanah, sedangkan Anda dipihak mereka?” Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Memanahlah kalian, saya berada di pihak kalian semua.” (HR Bukhari)

Begitu cintanya para sahabat ridhwanullah 'alaihim, hingga mereka cemburu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi supporter pada salah satu kelompok peserta lomba memanah. Hingga mereka menahan melepaskan anak panahnya.
Pemanah dari Joglo Mataramiyyah

Ust Abu Umar Abdillah Diliput Wesal TV di K3


Quote:
Jika latihan memanah itu bukan sesuatu yang penting dan bermanfaat, bagaimana mungkin Nabi shallallahu alaihi wasallam sudi meluangkan waktunya yang sangat berharga demi menonton perlombaan memanah yang diselenggarakan para sahabat dan menjadi “suporternya” ^_^

Kalau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saja sampai sampai meluangkan waktu beliau, lalu pertanyaannya adalah.. mengapa kita tidak menekuni olahraga ini?




Diambil dari fb ustadz abu umar abdillah

Jumat, Juli 08, 2016

Ketangkasan, Kemahiran, dan Kekuatan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam

Horsebow

Rasulullah sangat tangkas dan mahir dalam berkuda baik menggunakan pelana maupun tanpa pelana (bareback). Hadis dari Imam Al Bukhari berikut meriwayatkan kemahiran Rasulullah berkuda tanpa pelana.

Dari Tsabit, dari Anas, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sebaik-baiknya manusia, dan manusia paling dermawan, dan manusia paling pemberani. Pada suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara, maka beliau menunggangi kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana, lalu orang-orang keluar, ternyata mereka mendapati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mendahului mereka ke sumber suara itu, telah memeriksa apa yang terjadi, sambil beliau berkata: "Tidak ada apa-apa." Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, "Kami dapati kuda ini layaknya lautan (lebar langkahnya atau tidak putus-putus larinya, yang bermakna cepat larinya)." Tsabit berkata, "Kuda itu menjadi tak terkalahkan setelah peristiwa itu, padahal dahulu kuda itu dikenal lamban."

Kekuatan Rasulullah dalam memanah hingga mematahkan siyah busurnya. Kitab Al Maghazy karya Ibnu Ishaq meriwayatkan kejadian dalam Perang Uhud.

Ashim bin 'Umar bin Qatadah telah bercerita kepadaku, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memanah dengan busur Beliau pada Perang Uhud hingga patah siyah-nya. Lalu Qatadah memungutnya, maka sejak saat itu busur tersebut ada bersamanya.

Diriwayatkan busur tersebut bernama Al Katum.

Dari Kitab Al Furusiyah, Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Rabu, Juni 15, 2016

Ketika Ali bin Abi Thalib Mengajari Anaknya Memanah




Dari Kitab Telhis-i Resailu'r-rumat karya Mustafa Kani, yaitu kitab panahan Utsmaniyah Turki*), dalam Bab Panutan Peralatan Seni Memanah dan dikutip dari Kitab As-Sunan**) karya Al Bayhaqi, disebutkan dalam suatu penjelasan hadits bahwa:

Sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu'anhu mengajarkan memanah kedua putra beliau, yaitu Hasan dan Husayn Rodhiyallahu'anhuma semenjak usia dini. Dan untuk melindungi jempol kedua putranya yang masih lemah, beliau membuatkan keduanya pelindung jempol berupa cincin jempol (thumb ring) yang terbuat dari tanduk kambing.


*) Kitab Telhis-i Resailu'r-rumat adalah kitab panahan Utsmaniyah Turki karya Mustafa Kani yang diterbitkan tahun 1847 atas prakarsa Sultan Mahmud Khan bin Abdul Hamid yang memiliki perhatian besar terhadap panahan.

**) Kitab As-Sunan Al Kubra adalah kitab hadits yang disusun pada awal abad 11 Masehi, karya ulama Asy Syafiiyah bernama Ahmad bin Husayn Al Bayhaqi yang berasal dari Khurasan.

Oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Rabu, Juni 01, 2016

Imam Mazhab Panahan Dalam Peradaban Islam



Mumpung masih pagi dan pikiran cerah, nambah wawasan ttg biografi ahli panahan peradaban Islam dari kalangan imam mazhab panahan...

Sesungguhnya ada sekitar 10 imam panahan yang terkenal yg hidup dari abad ke 8 hingga 10, tapi yg paling terkenal adalah 4 org yg akan disebutkan berikut:

Abu Hashim Al Mawardi (wafat paruh pertama abad ke-8)

Beliau berasal dari Khorasan, berpostur tinggi, tungkai2 panjang, rentang tangan panjang, leher panjang. Mazhab panahannya seperti panahan Persia Sasaniyah dan berbasis panahan infantri dan menembak jarak jauh. Diriwayatkan bahwa beliau mempelajari panahan langsung dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu'anhu.

Thahir Al Balkhi (wafat paruh kedua abad ke-8)

Beliau berasal dari Kota Balkh di Khorasan, berpostur pendek, tungkai2 pendek, rentang tangan pendek, tangan gempal, leher pendek, jenggot panjang. Mazhabnya adalah panahan Khorasan yang merupakan perpaduan panahan Arab dan Persia, berbasis panahan berkuda dan panahan infantri. Diriwayatkan bahwa beliau mendapatkan ilmu panahan dari seorang putri sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu'anhu.

Ishaq Ar Raqqi (wafat paruh pertama abad ke-9)

Beliau berasal dari Kota Raqqah di Irak utara yang pernah menjadi ibukota Khalifah Abbasiyah, Harun Ar Rasyid. Berpostur sedang. Mazhabnya adalah hasil pengembangan panahan Abbasiyah yang mengambil jalan pertengahan antara Mazhab Abu Hashim dan Mazhab Thahir. Diriwayatkan bahwa beliau mempelajari panahan dari Abu Hashim Al Mawardi.

Abdurrahman Ath Thabari (wafat paruh kedua abad ke-9)

Beliau berasal dari wilayah Thabaristan di utara Persia. Beliau seorang keturunan Arab yang nenek moyangnya hijrah ke Thabaristan. Beliau berkelana menuntut ilmu panahan di Irak dan Khorasan. Mazhabnya disebut Mazhab Ikhtiyariyah (pilihan), karena menggunakan pendekatan memadukan teknik-teknik Mazhab Abu Hashim, Thahir, dan Ishaq, kemudian memilih elemen-elemen teknik yang paling cocok bagi diri seseorang berdasarkan postur tubuh dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Diriwayatkan bahwa beliau mempelajari panahan dari putra-putra Abu Hashim.

Merupakan suatu adab para pemanah muslim semenjak zaman dahulu, bahwa ketika hendak berlatih atau memulai kegiatan memanah, setelah bersalawat pada Nabi, mereka turut mendoakan para pemanah dari kalangan sahabat: Sa'ad bin Abi Waqqash, Abu Thalhah Al Anshari, Qatadah bin An Nu'man, Uqbah bin Amir Al Juhani, dsb... dan juga turut mendoakan para imam panahan tersebut, serta para mujahidin dan syuhada' dari kalangan pemanah...

By Irvan Pani
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Jumat, Mei 27, 2016

Pemanah Terakhir Khilafah Utsmani / The Last Archer



Beliau bernama Necmeddin (Najmuddin) Okyay, lahir tahun 1883 di Istanbul. Ayahnya seorang imam masjid. Beliau juga kemudian jadi imam masjid, juga sebagai ahli kaligrafi, seni ebru (hiasan marmer), seni pembuatan buku, guru dan pengajar kaligrafi dan seni di akademi seni Utsmaniyah.

Beliau belajar panahan dari pelatih panahan Sultan Abdulaziz, menjadi ahli dan juga sebagai bowyer. Di tahun 1920 an turut meramaikan Okmeydan di Istanbul. Namun setelah keruntuhan Utsmaniyah  di tahun 1922, kegiatan panahan dihentikan dan dimulai lagi atas inisiatif Republik Turki di tahun 1930-an, di mana beliau turut serta menggiatkan. Ketika perang dunia kedua terjadi, panahan kembali dihentikan hingga beliau pensiun di tahun 1958.



Beliau dianggap sebagai orang terakhir yang menguasai ilmu panahan peradaban Islam yang disempurnakan di zaman Utsmaniyah, setelah wafat di tahun 1976, sanad ilmu panahan Islam terhenti karena beliau tidak meneruskan kepada murid atau siapapun.

Beliau juga dianggap sebagai seorang Utsmani sejati yang terakhir.

by: irvan pani abu aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Rabu, April 27, 2016

Ternyata Ulama Ini Ahli Panahan Dengan Akurasi Sangat Tinggi!



Sepanjang sejarah peradaban Islam, tersebutlah berbagai nama dari kalangan alim ulama paska generasi sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in yang terkenal atas skill dan pengetahuannya yang luas di bidang furusiyah terutama ilmu panahan. Di antaranya:

Dari zaman Abbasiyah (mulai abad ke-8 Masehi) tersebut nama Imam Asy Syafi'i Rahimahullah yang memiliki akurasi 9 dari 10 (Siyar A'lam An Nubala', Imam Adz Dzahabi) dan Imam Al Bukhari Rahimahullah yang nyaris tidak pernah membuat kesalahan dalam mengenai sasaran (Sirah Al Imam Al Bukhari).

Imam Asy Syafi'i mempelajari ilmu panahan Arab di Hijaz dan ahli menggunakan busur Arab Badawi dan busur komposit Arab Al Wasithiyah. Imam Al Bukhari yang asli penduduk Kota Bukhara di Khorasan yang memiliki tradisi panahan serta memanah berkuda yang kuat, ahli dalam menggunakan busur komposit Khorasan, al qaws al khurasaniyah. Wilayah Khorasan di zaman Imam Al Bukhari merupakan tulang punggung militer Abbasiyah dan sebagai pusat para ahli panahan dan panahan berkuda di seluruh wilayah Daulat Islam. Dikatakan Imam Al Bukhari selalu menunggang kuda ketika berlatih memanah.

Dari zaman Mamluk (mulai abad ke-13 Masehi) di Mesir dan Syam yang memiliki tradisi furusiyah kuat serupa dengan dinasti Abbasiyah muncul nama-nama ulama berikut:

Ulama-ulama rahimahumullah yang paham tentang furusiyah dan panahan yang menulis kitab tentangnya (dari Adab Al Furusiyah):


  1. Sharaf al-Din al-Dimyati (wafat 705/1305–6)
  2. Badr al-Din Ibn Jama‘ah(wafat 733/1333)
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyah (wafat 751/1350)
  4. ‘Izz al-Din Ibn Jama‘ah (wafat 819/1416)
  5. Wali al-Din Ahmad al-‘Iraqi (wafat 826/1422)
  6. Shams al-Din Muhammadal-Sakhawi (wafat 902/1497)
  7. Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman al-Suyuti (wafat 911/1505)


Ulama-ulama yang disebut sebagai praktisi dan ahli panahan dari zaman Mamluk (International Furusiyah Studies):


  • Muhammad al-Aqsara’i al-Hanafi (wafat 749/1348), penulis kitab panahan sekaligus ahli panahan dan ahli tombak panjang (lance) baik di atas kuda maupun menggunakan kaki.
  • ‘Ala’ al-Din al-Akhmimi al-Naqib, hakim kepala mazhab Syafi'i Kesultanan Mamluk (menjabat 906–22/1501–16) disebut sebagai ahli panahan yang sulit ditandingi.


Para ahli panahan di zaman Mamluk ini menggunakan busur mamluk atau busur komposit Damaskus, al qaws al dimashq. Ilmu panahan di zaman Mamluk merupakan kelanjutan dari ilmu panahan Abbasiyah dengan beberapa pengaruh dari tradisi Turki Kipchak.

Yuk lanjutkan tradisi para ulama...

Penulis:
Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Rabu, Maret 23, 2016

Kisah Pemanah Di Perang Uhud, Rahasia Hikmah Yang Terungkap!

Perang Uhud, salah satu perang besar yang terjadi antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam dengan kaum musyrikin Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb (yang ketika itu masih kafir). Perang ini merupakan perang yang dahsyat, bagaimana tidak... kaum musyrikin Makkah rela menempuh perjalanan sejauh 450KM (berjalan dari Makkah ke Madinah) untuk menghabisi kaum muslimin.

Di pertempuran ini pula terbunuh Singa Allah Hamzah Bin Abdul Muththalib, paman dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Perang ini terjadi di sekitar bukit Uhud di luar kota Madinah, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mengatur posisi pasukan dengan membelakangi Uhud dan menghadap Madinah, sehingga pasukan musuh berada di tengah kaum muslimin dan Madinah.


Jabal Rumat, foto diambil dari lokasi perang Uhud

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam menunjuk satu detasemen yang terdiri 50 dari pemanah ulung yang dikomandani oleh Abdullah bin Jubair, pasukan ini diposisikan di Jabal Rumat / Jabal Ainain, sekitar 150 meter dari pasukan kaum Muslimin. Karena pentingnya posisi pemanah ini, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda kepada mereka: "Lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerang kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita di atas angin atau pun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu."

Beliau juga bersabda: "Lindungilah punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang beretempur, maka kalian tidak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami."

Al-Bukhori meriwayatkan: Beliau bersabda:"Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, maka janganlan kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusan yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami dapat mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada utusan yang datang kepada kalian."

Akan tetapi tatkala pasukan kaum muslimin hampir meraih kemenangan dan pasukan pemanah melihat orang-orang muslim sudah mengumpulkan harta rampasan dari pihak musuh, mereka pun dikuasai egoisme kecintaan terhadap duniawi. 40 pemanah melanggar perintah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam dan turun ke lembah Uhud untuk ikut mengumpulkan harta ghanimah. Hingga tertinggal 10 pemanah saja di Jabal Rumat.

Dalam kondisi ini, situasi berbalik hingga kaum muslimin terjepit dan kocar-kacir hingga hampir-hampir Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam terbunuh.

Akan tetapi dalam pertempuran selanjutnya, kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mampu membalikkan keadaan hingga menguasai pertempuran, meskipun banyak sekali para sahabat yang gugur demi menyelamatkan beliau.

Jabal Uhud
Melihat begitu sengitnya pertempuran antara dua kekuatan besar saat itu, serta dengan menganalisa jalannya pertempuran, maka akan banyak sekali pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil. Salah seorang penggiat panahan tradisional sekaligus ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia) Irvan Pani Abu Aqilah meringkasnya menjadi beberapa poin.

Hikmah yang bisa kita pelajari dari Perang Uhud:

  1. Bahwa pemanah wajib sabar; tidak boleh tergesa-gesa, grasa-grusu, sradak-sruduk, tidak boleh terlalu cepat mengambil kesimpulan.
  2. Bahwa pemanah wajib waspada dan awas; tidak boleh lalai, lengah, terhanyut, apalagi terhasut.
  3. Bahwa pemanah wajib istiqomah taat dan bersikap amanah pada tugas yang dibebankan padanya.
  4. Bahwa pemanah harus cerdas dan cerdik, memiliki rasio, logika, dan penuh perhitungan dalam setiap tindakannya dan paham atas konsekuensi dari semua tindakannya tersebut.
  5. Bahwa dalam pemikiran dan perbuatan pemanah harus memprioritaskan apa-apa yang penting menurut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, terutama sunnah-sunnah beliau.
  6. Bahwa hati pemanah harus selalu berzikir mengingat Allah Yang Berkuasa atas setiap aktivitas panahan (QS Al Anfal ayat 17: wamaa ramayta idz ramayta walaakinna Allaaha ramaa) sehingga tidak mudah tergoda oleh fitnah dunia.

Dari segi teknis, melihat posisi Jabal Rumat dan pasukan kaum muslimin, maka para pemanah terdahulu mampu menembakkan anak panah sejauh 150 meter untuk menghalau detasemen musuh yang dikomandani oleh Khalid bin Walid.

Melihat jarak panahan yang begitu jauh (150 meter), tentunya membuat kita harus semakin giat berlatih untuk menajamkan insting memanah kita. Lebih dari itu, kita membutuhkan sarana panahan yang terbaik, dari tekniknya, busurnya serta anak panahnya, quiver dan sebagainya.

Bagaimana dengan anda? Sudah latihan hari ini?

Sabtu, Maret 12, 2016

Rekor Dunia Panahan; Jarak Terjauh Anak Panah

Okmeydani dan Kemankes, Bukti Kejayaan Ilmu Memanah Kesultanan Usmani part II

 menzil taşı



Tentang Panahan Jarak Jauh dan Batu Jarak

Salah satu dari cabang panahan Turki yang dilakukan di okmeydani adalah "menzil atışı" yaitu memanah jarak jauh. Panahan ini termasuk jenis panahan sport. Busur yang digunakan kemankes di panahan ini tetaplah busur turki tetapi mempunyai bentuk yang berbeda, saat dalam kondisi unstring lebih mendekati bentuk O seperti busur korea yang mereka sebut "menzil yayı". Di sini para kemankes berlomba untuk mencapai jarak terjauh.

Pada awal pembuatan okmeydani seorang pemanah menembakkan panah untuk menentukan jarak. Tempat jatuhnya anak panah itu dibangun "ana taşı" atau batu utama. Setiap kali ada rekor baru yang berhasil dibuat, sebuah prasasti granit yang bernama "menzil taşı" atau batu jarak akan didirikan. Prasasti baru akan didirikan bila ada yang berhasil memecahkan rekor terakhir. Prasasti ini biasanya berbentuk klasik, bunga tulip, atau kesultanan dan nama pemanahnya dipahat untuk mengenang pemanah berprestasi tersebut.

Berikut beberapa rekor tertinggi panahan jarak jauh,

  1. Tozkoparan Iskender 1281 gez (845,79 m) 
  2. Mir-i Alem Ahmed AÄŸa 1271,5 gez (839,18 m) 
  3. Bursalı Åžuca 1243,5 gez (820,71 m) 
  4. Tozkoparan Iskender 1279 gez (844,14 m) 
  5. Parpol Huseyin Efendi 1207 gez (796,62 m) 
  6. Çullu Ferruh 1223 gez (807,18 m) 
  7. Lendufa Cafer 1209,5 gez (798,27 m) 
  8. Sultan II. Mahmud 1228 gez (810,48 m), 1225 gez (808,5m), 1219 (804,54 m) 
Rekor jarak terjauh dipegang oleh Tozkoparan Iskender dengan jarak 845,79 meter yang merupakan rekor jarak panahan terjauh yang pernah tercatat sepanjang sejarah. Ketika Tozkoparan membuat rekor menakjubkan tersebut ia dipersembahkan gelar "Cihan Pehlivani" atau pegulat alam semesta. Hal ini tidaklah aneh karena panahan jarak jauh selain membutuhkan teknik yang sangat baik juga membutuhkan busur berkekuatan (ber poundage) tinggi. Beberapa sultan Usmani seperti Murad ke 4, sang penakluk Baghdad, Selim ke 3, dan Mahmud ke 2 juga mempunyai beberapa batu jarak atas nama mereka di Okmeydanı. Ini membuktikan para sultan dahulu bukanlah anak raja yang tidak mempunyai keahlian.

Prasasti-prasasti batu ini masih ada tersebar di beberapa tempat di daerah okmeydani. Seiring waktu mereka hanya menjadi relik masa lalu yang bahkan masyarakat Turki kebanyakan sendiri tidak tahu apa artinya. Banyak dari prasasti ini bahkan telah dipotong karena menghalangi jalan. Akan tetapi roda kehidupan berputar dan menzil taşı menjadi salah satu dasar kekaguman dunia Barat maupun internasional.

Pada tahun 1795, seorang konsulat Turki di Inggris yang bernama Mahmud Efendi menembakkan 3 anak panah ketika dia diundang oleh anggota Komunitas Toxophilite. Jaraknya diukur dengan seksama dan mereka terkejut ketika mengetahui jarak dari anak panah yang paling jauh adalah 440 meter, lebih jauh hampir 100 meter dari jarak terjauh yang pernah dicapai busur panjang Inggris (English longbow). Selain itu Mahmud Efendi berkata bahwa dia sedang tidak enak badan di saat itu, dan juga busur yang digunakannya bukanlah busur yang bagus ditambah pula dia hanyalah seorang amatir. Rupanya beliau tidak bercanda karena memang banyak pemanah yang bisa memanah lebih jauh dari beliau.

Peristiwa tersebut merupakan kejadian bersejarah di mana panahan Turki mulai menarik perhatian masyarakat luas khususnya di dunia Barat. Setelah itu, beberapa kitab ilmu panahan pun diterjemahkan oleh beberapa sejarawan ke dalam bahasa Inggris. Berkat usaha mereka, peneliti, dan pemanah lokal, menzil taşı dapat menjadi bukti jayanya ilmu panahan di Turki.

Gambar: beberapa bentuk menzil taşı (atas), dan menzil taşı atas nama Beşir Ağa dan Dr. Paul Ernest Klopsteg ketika mengungjungi Istanbul pada tahun 1930 (bawah)

Sumber: artikel hoca Murat Ozveri dalam turkishculture.org, buku The Arms of The Sultans oleh Hilmi Aydin ‪

#‎islamicarchery‬ ‪#‎panahanislam‬ ‪#‎sejarahislam‬ ‪#‎islamicgoldenage‬ ‪#‎warisanummat‬

Penulis: fahmi ranggamurti

Minggu, Februari 28, 2016

Ilmu Memanah Di Era Kejayaan Turki Utsmani




Okmeydani dan Kemankes, Bukti Kejayaan Ilmu Memanah Kesultanan Usmani (part I)

Busur dan anak panah telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan Dinasti Usmani sejak masa berdirinya, walau peran mereka tergantikan oleh senapan api di pada abad ke 16. Panahan terutama memegang peranan penting di momen penaklukan kota Konstantinopel atau Istanbul sekarang. Pasukan pemanah, berkuda dan tidak, menjadi pasukan pendobrak maupun pembantu pasukan lain. Maka tidaklah heran jika Sultan Mehmet Sang Penakluk menghargai ilmu panahan sangat tinggi. Beliau mendirikan lapangan panahan yang disebut Okmeydanı yang didirikan di atas tanah waqaf beliau di dekat Golden Horn.

Sultan Mehmet sering berkunjung ke area ini untuk melihat aktifitas para pemanah dan calon pemanah yang berlatih di sini. Beliau juga datang khusus di saat acara penobatan para pemanah yang telah lulus ujian dan kemudian akan menjadi prajurit pemanah yang disebut kemankes. Selain itu di area ini pulalah para pemanah Usmani melakukan lomba menembakkan panah terjauh di antara mereka. Di lapangan memanah jarak jauh terdapat beberapa lapangan tergantung arah angin. Setelah para kemankes mengambil wudhu, mereka akan berkumpul di tempat yang disebut ayak taşı atau batu kaki. Sebelum mulai memanah mereka akan menyebutkan bersama-sama:

"Ne hava vü ne keman-ü kemankeş. Ancak erdiren menziline nidayı ya Hak!"

yang kurang lebih berarti "bukan karena cuaca dan bukan karena busur, melainkan kami para pemanah dapat menjangkau tempat yang jauh karena Engkau sang Al-Haq". Versi pendek dari  kalimat ini, sebagaimana dituliskan di buku Türk OkçuluÄŸu atau Panahan Turki, adalah penyebutan "Ya Hak" yang sering diucapkan para pemanah Turki ketika melepaskan anak panah. Ini adalah semacam doa agar anak penah terbang lurus juga pengingat bahwa walaupun manusia berusaha, semua itu karena Allah mengijinkan dia memanah dan Dia pula yang menentukan hasilnya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:

"wahai dia yang melesatkan anak panah! Jika engkau mengenai tujuanmu itu bukanlah karena kemampuanmu melainkan karena Allah" (Al Anfal:17)

Sikap inilah yang harus dimiliki seorang kemankes Usmani. Di saat dia gagal mencapai target, dia akan melihat ke dalam dan berusaha memperbaiki diri supaya Allah berkenan memberikan izin-Nya. Di saat berhasil mencapai target, dia tahu bahwa semua karena rahmat dan izin Allah sehingga dia tetap tenang dan rendah hati.

Sumber: The arms of the sultans by Hilmi Aydin
Gambar: Ok Meydanı di abad 18 oleh Luigi Mayer

#islamicarchery
#panahanislam
#sejarahislam
#islamicgoldenage
#warisanummat


Penulis: (Fahmi Ranggamurti)